Scroll untuk baca artikel
BeritaPemerintahan

Anemia Defisiensi Besi Jadi Ancaman Tersembunyi bagi Tumbuh Kembang Anak

258
×

Anemia Defisiensi Besi Jadi Ancaman Tersembunyi bagi Tumbuh Kembang Anak

Sebarkan artikel ini
dr. Ahmad Mahfur, Sp.A, dokter Spesialis Anak RSUD Kabupaten Jombang, dalam podcast yang diselenggarakan Tim Humas RSUD Jombang, Senin (10/8/2026). Podcast tersebut mengangkat tema “Anemia Defisiensi Besi: Ancaman Tersembunyi bagi Tumbuh Kembang Anak.”

JOMBANG, Mediamedia.id — Anemia defisiensi besi menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius dari orang tua. Kondisi tersebut tidak hanya menyebabkan anak terlihat pucat dan lemas, tetapi juga dapat berdampak terhadap perkembangan otak, kemampuan belajar, serta tumbuh kembang anak.

 

Hal tersebut disampaikan dr. Ahmad Mahfur, Sp.A, dokter Spesialis Anak RSUD Kabupaten Jombang, dalam podcast yang diselenggarakan Tim Humas RSUD Jombang, Senin (10/8/2026). Podcast tersebut mengangkat tema “Anemia Defisiensi Besi: Ancaman Tersembunyi bagi Tumbuh Kembang Anak.”

 

Menurut dr. Ahmad, anemia defisiensi besi merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin dalam darah lebih rendah dari batas normal sesuai usia anak, yang disebabkan oleh kekurangan zat besi.

 

“Anemia defisiensi besi adalah suatu kondisi di mana kadar hemoglobin dalam darah lebih rendah dari normalnya sesuai usia anak yang disebabkan karena kekurangan zat besi,” jelasnya.

 

Ia menerangkan, kondisi tersebut kerap ditemukan pada anak yang mengalami kekurangan asupan gizi. Beberapa tanda yang dapat terlihat antara lain wajah pucat dan tubuh lemas. Jika kondisi tersebut ditemukan, orang tua dianjurkan untuk membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

 

Dr. Ahmad menegaskan, persoalan kekurangan zat besi tidak boleh dianggap sepele. Sebab, zat besi memiliki peranan penting dalam perkembangan otak, terutama pada masa awal kehidupan anak.

 

“Kekurangan zat besi berpengaruh pada perkembangan otak terutama saat anak berusia 2 tahun. Oleh karena itu, zat besi memiliki peranan penting dalam pembentukan otak,” terangnya.

 

Menurutnya, kekurangan zat besi pada anak dapat berpengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan, mulai dari kemampuan kognitif, motorik hingga perilaku.

 

“Manakala terjadi kekurangan zat pada anak akan mengalami gangguan perkembangan otak, salah satunya perkembangan kognitif, perkembangan motorik, dan perkembangan perilaku,” tandasnya.

 

Dampak tersebut bahkan dapat berlanjut pada kemampuan anak dalam mengikuti proses pembelajaran. Anak yang mengalami kekurangan zat besi berisiko mengalami gangguan belajar sehingga dapat memengaruhi perkembangan dan aktivitasnya sehari-hari.

 

Dr. Ahmad menyebut anemia defisiensi besi sebagai “ancaman tersembunyi” karena kondisi kekurangan zat besi tidak selalu menunjukkan gejala yang mudah dikenali sejak awal. Akibatnya, orang tua terkadang tidak menyadari bahwa anaknya mengalami kekurangan zat besi.

 

“Ketika ada anak kekurangan zat besi menjadi ancaman tersembunyi karena seringkali tanpa menunjukkan gejala yang muncul. Sehingga orang tua tidak sadar atau tidak aware jika anaknya mengalami kekurangan zat besi,” ujarnya.

 

Karena itu, ia mengingatkan para orang tua agar lebih waspada terhadap kemungkinan anemia defisiensi besi pada anak. Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena bukan hanya berkaitan dengan kondisi fisik anak, tetapi juga dapat memberikan dampak terhadap perkembangan otak dan tumbuh kembang dalam jangka panjang.

 

Orang tua pun diharapkan tidak menganggap remeh tanda-tanda seperti anak terlihat pucat, mudah lemas, atau mengalami gangguan dalam proses tumbuh kembang. Pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan dapat dilakukan untuk memastikan kondisi anak dan mendapatkan penanganan yang sesuai.

(Tiono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *