Scroll untuk baca artikel
BeritaNasionalPemerintahan

Disperta Jombang Optimistis Dongkrak Produksi Padi 2026, Surplus Beras Diproyeksi Capai 108 Ribu Ton

275
×

Disperta Jombang Optimistis Dongkrak Produksi Padi 2026, Surplus Beras Diproyeksi Capai 108 Ribu Ton

Sebarkan artikel ini
Dinas Pertanian Kabupaten Jombang (Disperta) menargetkan luas panen pada Musim Tanam (MT) I 2026 mencapai 35.000 hektare.

Jombang, Mediamedia.id – Produksi padi di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada tahun 2026 diperkirakan mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Dinas Pertanian Kabupaten Jombang (Disperta) menargetkan luas panen pada Musim Tanam (MT) I 2026 mencapai 35.000 hektare. Puncak panen raya diprediksi berlangsung pada pertengahan Maret hingga awal April mendatang.

Kepala Disperta Jombang, M. Rony, menyampaikan bahwa keyakinan tersebut didukung oleh luas tanam yang tersebar hampir di seluruh kecamatan serta kondisi pertumbuhan tanaman yang tergolong baik.

“Dengan luasan panen yang besar dan distribusi yang merata, kami yakin produksi padi tahun ini akan meningkat dibanding sebelumnya,” ujar Rony, Rabu (11/2/2026).

Dari sisi produktivitas, Disperta memperkirakan rata-rata hasil Gabah Kering Panen (GKP) mencapai 7,5 ton per hektare. Setelah dikonversi menjadi Gabah Kering Giling (GKG), angkanya berada di kisaran 6,24 ton per hektare.

Kepala Disperta Jombang, M. Rony,

Menurut Rony, capaian tersebut menunjukkan adanya peningkatan produktivitas sekaligus efisiensi dalam proses budidaya yang dilakukan petani.
Dengan rata-rata luas panen tahunan sekitar 70.000 hektare, Jombang dinilai memiliki potensi besar sebagai salah satu daerah penopang ketahanan pangan di Jawa Timur serta berkontribusi terhadap swasembada pangan nasional.

Berdasarkan data tahun 2025, realisasi produksi bahkan melampaui target pemerintah pusat. Dari target 81.000 hektare, luas panen terealisasi hingga 86.000 hektare dengan produktivitas GKG 6,24 ton per hektare. Total produksi tercatat lebih dari 446.715 ton gabah kering giling atau setara 257.942 ton beras.

Sementara itu, kebutuhan konsumsi beras masyarakat Jombang hanya sekitar 149.237 ton per tahun. Dengan demikian, pada 2025 tercatat surplus beras sekitar 108.705 ton.
“Kelebihan produksi ini menjadi modal penting dalam memperkuat ketahanan pangan daerah,” tegasnya.

Menghadapi musim tanam selanjutnya, Disperta juga mendapat dukungan dari prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Tahun 2026 diperkirakan berada pada kondisi iklim normal, dengan musim kemarau dimulai akhir April atau awal Mei dan musim hujan kembali terjadi pada pertengahan Oktober.

Rony menilai kondisi tersebut memberi peluang bagi petani untuk menyusun pola tanam secara lebih terencana dan optimal.
Selain menguntungkan tanaman padi, situasi iklim yang diprediksi normal ini juga dinilai mendukung komoditas unggulan lainnya, seperti tembakau dan berbagai tanaman palawija, di antaranya jagung, kedelai, serta semangka, yang membutuhkan kondisi kemarau untuk hasil maksimal.

(Red/Tio)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *